Seperti biasa, pagi tadi aku bangun jam lima. Sebelum beranjak dari tempat tidur aku cium pipi istriku untuk mengucapkan selamat pagi. Tidak lupa aku mengelus dan mencium perutnya. Tiba-tiba saja perutnya bergerak-gerak. “Oh, kamu pun dah bangun to, selamat pagi ya sayang”. Haha, tak sabar rasanya menunggu keluarnya si kecil dalam perut istriku ini.
Seperti Apakah Kita?
•Juli 18, 2008 • Tinggalkan sebuah KomentarSeperti Apakah Kita?
Bacaan : Lukas 8:4-15
Nats : Lukas 8: 15, Lukas 10:23-24
Seringkali kita bangga menjadi kristen karena merasa sebagai makhluk yang sangat dikasihi oleh Tuhan. Padahal, rasa bangga yang berlebihan itu bisa dijadikan alat oleh Iblis untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Anda pasti ingat kisah Yunus. Setelah belajar dari kekerasan hatinya, Yunus boleh berbahagia karena kemudian Tuhan dengan sabar berkenan mengingatkannya. Tetapi bagaimana dengan kita, apakah juga memiliki kerendahan hati untuk selalu mendengar suaraNya?
Lukas 8:4-15 menceritakan respons Yesus terhadap banyak orang yang selalu mengikuti-Nya. Dalam perumpamaan yang Dia sampaikan, tampak jelas jika Ia ingin setiap orang tidak cukup hanya mendengar namun juga memahami untuk kemudian berbuah. DiceritakanNya bahwa sebenarnya semua orang mendapat kesempatan untuk mendengar Firman Tuhan. Namun, respons dan kondisi manusiawi ternyata berpengaruh dalam pertumbuhan dan pembuahan Firman itu. Sementara itu, dengan berbagai macam cara, si Iblis akan senantiasa berupaya untuk merampas bibit-bibit Firman itu.
Perumpamaan tentang seorang penabur ini sangat istimewa karena masuk dalam salah satu perumpamaan yang langsung dijelaskan maksudnya oleh Yesus. Di situ dengan gamblang Tuhan menginginkan kita untuk berbuah dalam ketekunan, bukan hanya menjadi orang yang terbatas memiliki kerinduan untuk mendengar. Orang yang hanya rindu mendengar biasanya justru akan melupakan Firman yang telah diterima. Apalagi jika menjadi orang yang keras hati dan keras kepala. Orang seperti ini akan selalu memuntahkan Firman Tuhan yang tidak sesuai dengan logika manusiawi. Namun, orang yang bertekun adalah orang yang memiliki kerendahan hati, kepolosan, dan kesederhanaan. Orang-orang seperti inilah yang sangat berharga di hadapan Tuhan. (Lukas 10:23-24).
Marilah kita berintrospeksi. Bukankah banyak dari kita yang kemudian menggunakan karunia sebutan Anak Allah secara sombong untuk kemudian menghakimi orang lain? Jika kita mau jujur, ternyata kita selalu menghakimi sesuai ukuran kita, bukan dengan ukuran Allah. Namun, selalu saja kita merasa bahwa Allah di pihak kita, dan Allah tidak berada di pihak orang yang kita hakimi. Padahal, ketika kita mulai mengedepankan sisi manusia kita maka hadirat Tuhan tidak akan pernah ada di dalam kita. Untunglah, Tuhan selalu mengingatkan kita untuk berbuah dengan selalu mengasihi sesama, bagaimanapun mereka, dan menjaga diri kita sendiri untuk selalu menjadi lahan yang baik untuk Firman Tuhan.
Kita lupa bahwa Yesus tidak pernah mengharuskan kita untuk menjadi Kristen. Yang Ia inginkan ialah supaya kita memahami dan menjalankan Hukum KasihNya.
